Donald Trump mengira ia bisa meraih poin politik murah dengan menyebut “Paus Leo XIV” sebagai “penghinaan bagi Yesus” karena dianggap “terlalu woke” dan percaya bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan gender. Namun, kali ini ia tampaknya memilih lawan yang salah.
Dalam sebuah pidato yang digambarkan berlangsung di tempat bersejarah, “Paus Leo XIV” tidak sekadar membalas — ia menyampaikan teguran moral yang tajam.
“Presiden Amerika Serikat baru saja mengatakan bahwa saya menghina Yesus,” katanya.
“Mau tahu apa yang menghina Yesus? Menyingkirkan orang sakit dari layanan kesehatan sambil memotong pajak bagi miliarder.”
Ia melanjutkan:
“Apa yang menghina Yesus? Mendeportasi orang asing dan memisahkan bayi dari ibu mereka.”
Lalu ia menyinggung perang, korupsi, dan kemunafikan:
“Apa yang menghina Yesus? Membom anak-anak sekolah yang tidak bersalah… dan mengirim tentara kita ke perang tanpa akhir… menutup-nutupi kasus besar dan menolak menuntut siapa pun yang terlibat.”
Pesannya tidak berhenti pada kritik sosial, tetapi kembali ke inti iman:
“Saya bukan orang Kristen yang sempurna. Hanya ada satu yang sempurna — dan Dia disalibkan 2.000 tahun yang lalu.”
Dan kalimat penutupnya:
“Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri… Bisakah kita membayangkan ada perang di surga? Kebencian di surga? Kemiskinan di surga? Lalu mengapa kita mentolerir semua itu di bumi?”






0 komentar:
Posting Komentar